Oleh : Dewi Oktarini
Mahasiswa sebagai civitas akedemika, identik dengan intelektualitas dan idealisme tinggi. Mampu menampilkan diri sebagai generasi pembaharu. Pioneer reformasi yang peka terhadap berbagai penderitaan yang melilit rakyat. Baik dari segi kesejahteraan maupun keamanan. Mahasiswa terus bergerak memperjuangkan hak – hak rakyat dengan mengelu-elukan demokrasi dan keadilan.
Mahasiswa tak hanya berwacana, tapi mampu membuktikannya melalui aksi-aksi nyata. Masih lekat diingatan bagaimana mahasiswa diseluruh belahan tanah air Indonesia bersatu. Berjuang merobohkan rezim Suharto, mei 1998 silam. Untuk memukul mundur Soeharto, mahasiswa tak segan – segan mengorbankan nyawanya seperti yang terjadi pada tragedi trisakti.
Kesuksesan mahasiwa tersebut membuat semua pihak begitu memperhitungkan keberadaan mahasiwa hingga saat ini. Tidak hanya itu, sampai saat ini mahasiswa masih aktif dalam menyikapi berbagai kebijakan pemerintah. Seperti kenaikan BBM yang sangat mencekik rakyat atau tidak kunjung dipenuhi anggaran pendidikan 20 %. Meski demikian, dari hari kehari gaung mahasiswa semakin memudar. Idealisme yang tinggipun seiring waktu mulai terkikis. Mahasiswa tidak sekeritis dulu.
Bahkan yang sangat kontras baru-baru ini, ketika beberapa buletin kampus mengangkat masalah kebobrokan BEM, MPM, dan DPM. Lembaga yang katanya mewakili mahasiswa terindikasi kecurangan pada pemilihan umum presiden mahasiswa (PRESMA). Bahkan sampai terjadi kesenjangan antara kaum minoritas dan mayoritas di republik mahasiwa. Tentu sangat tidak etis sekali jika mahasiswa yang dipercaya sebagai generasi pembaharu, melakukan tindakan disebut di atas.
Seharusnya menjunjung tinggi keadilan dan demokrasi tidak melakukan kecurangan – kecurangan seperti itu. Mengingat mahasiswa adalah penerus – penerus bangsa yang identik dengan intelektualitas dan idealisme tinggi. Mahasiswa dikenal sebagai generasi perubahan. Generasi yang diharapkan mampu menelurkan ide – ide cemerlang. Bisa membawa bangsa ini bangkit dan terlepas dari berbagai keterpurukan sehingga terbentuklah suatu Negara yang aman, damai dan sejahtera.
Jadi sangat wajar jika pada akhirnya 10 tahun pasca reformasi bangsa tercinta belum menunjukan perubahan yang signifikan. Padahal tak jarang yang duduk dibirokrasi saat ini adalah mahasiwa-mahasiwa yang dulunya aktif turun ke jalan menggaung – gaungkan kebobrokan politik dan birokrasi yang membuat rakyat menderita.
Begitu memalukan tentunya ketika ada orang – orang berteriak lantang menyuarakan keadilan tapi ketika diberi kesempatan untuk menentukan kebijakan dia berlaku tidak adil. Parahnya, yang lebih memalukan lagi mereka berasal dari golongan – golongan intelek idealis yang di percaya masyarakat sebagai generasi pembaharu yang mampu membawa perubahan sehingga Indonesia bisa keluar dari keterpurukan. Sehingga tak heran kalau banyak pihak yang kemudian meragukan mahasiswa dan berwacana aksi mahasiwa tidak untuk rakyat semata tapi ada kepentingan dari pihak – pihak tertentu atau sekedar sarana untuk berpolitik praktis.
Karena itu sudah seharusnya mahasiswa merapatkan lagi barisan untuk mengevaluasi diri dan memurnikan kembali identitas kita sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi tridarma perguruan tinggi yang mengutamakan intelektualitas dan kepentingan – kepentingan rakyat sehingga dengan sendirinya image mahsiwa sekedar cari pamor semata akan lenyap. Dan untuk mewujudkan itu semua tentunya dibutukan komitmen yang kuat dan ikatan ukhuwah yang benar – benar solid.
(LPM) RO'YUNA IAIN MATARAM


