Senin, 07 Juli 2008

MAHASISWA Vs DEMOKRASI


Oleh : Dewi Oktarini


Mahasiswa sebagai civitas akedemika, identik dengan intelektualitas dan idealisme tinggi. Mampu menampilkan diri sebagai generasi pembaharu. Pioneer reformasi yang peka terhadap berbagai penderitaan yang melilit rakyat. Baik dari segi kesejahteraan maupun keamanan. Mahasiswa terus bergerak memperjuangkan hak – hak rakyat dengan mengelu-elukan demokrasi dan keadilan.
Mahasiswa tak hanya berwacana, tapi mampu membuktikannya melalui aksi-aksi nyata. Masih lekat diingatan bagaimana mahasiswa diseluruh belahan tanah air Indonesia bersatu. Berjuang merobohkan rezim Suharto, mei 1998 silam. Untuk memukul mundur Soeharto, mahasiswa tak segan – segan mengorbankan nyawanya seperti yang terjadi pada tragedi trisakti.
Kesuksesan mahasiwa tersebut membuat semua pihak begitu memperhitungkan keberadaan mahasiwa hingga saat ini. Tidak hanya itu, sampai saat ini mahasiswa masih aktif dalam menyikapi berbagai kebijakan pemerintah. Seperti kenaikan BBM yang sangat mencekik rakyat atau tidak kunjung dipenuhi anggaran pendidikan 20 %. Meski demikian, dari hari kehari gaung mahasiswa semakin memudar. Idealisme yang tinggipun seiring waktu mulai terkikis. Mahasiswa tidak sekeritis dulu.
Bahkan yang sangat kontras baru-baru ini, ketika beberapa buletin kampus mengangkat masalah kebobrokan BEM, MPM, dan DPM. Lembaga yang katanya mewakili mahasiswa terindikasi kecurangan pada pemilihan umum presiden mahasiswa (PRESMA). Bahkan sampai terjadi kesenjangan antara kaum minoritas dan mayoritas di republik mahasiwa. Tentu sangat tidak etis sekali jika mahasiswa yang dipercaya sebagai generasi pembaharu, melakukan tindakan disebut di atas.
Seharusnya menjunjung tinggi keadilan dan demokrasi tidak melakukan kecurangan – kecurangan seperti itu. Mengingat mahasiswa adalah penerus – penerus bangsa yang identik dengan intelektualitas dan idealisme tinggi. Mahasiswa dikenal sebagai generasi perubahan. Generasi yang diharapkan mampu menelurkan ide – ide cemerlang. Bisa membawa bangsa ini bangkit dan terlepas dari berbagai keterpurukan sehingga terbentuklah suatu Negara yang aman, damai dan sejahtera.
Jadi sangat wajar jika pada akhirnya 10 tahun pasca reformasi bangsa tercinta belum menunjukan perubahan yang signifikan. Padahal tak jarang yang duduk dibirokrasi saat ini adalah mahasiwa-mahasiwa yang dulunya aktif turun ke jalan menggaung – gaungkan kebobrokan politik dan birokrasi yang membuat rakyat menderita.
Begitu memalukan tentunya ketika ada orang – orang berteriak lantang menyuarakan keadilan tapi ketika diberi kesempatan untuk menentukan kebijakan dia berlaku tidak adil. Parahnya, yang lebih memalukan lagi mereka berasal dari golongan – golongan intelek idealis yang di percaya masyarakat sebagai generasi pembaharu yang mampu membawa perubahan sehingga Indonesia bisa keluar dari keterpurukan. Sehingga tak heran kalau banyak pihak yang kemudian meragukan mahasiswa dan berwacana aksi mahasiwa tidak untuk rakyat semata tapi ada kepentingan dari pihak – pihak tertentu atau sekedar sarana untuk berpolitik praktis.
Karena itu sudah seharusnya mahasiswa merapatkan lagi barisan untuk mengevaluasi diri dan memurnikan kembali identitas kita sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi tridarma perguruan tinggi yang mengutamakan intelektualitas dan kepentingan – kepentingan rakyat sehingga dengan sendirinya image mahsiwa sekedar cari pamor semata akan lenyap. Dan untuk mewujudkan itu semua tentunya dibutukan komitmen yang kuat dan ikatan ukhuwah yang benar – benar solid.
Penulis adalah Akitivis Pers Mahasiswa
(LPM) RO'YUNA IAIN MATARAM


Detail:

Rabu, 02 Juli 2008

REPLEKSI

Merenungi Nasib NTB di Pusaran Pilkada

Sore itu sepulang dari Lombok Timur saya melihat salah satu calon dan wakil gubernur sedang kampanye di lapangan umum mataram. Kurang lebih dari 1000 orang tumpah di sana menyemangati kedua calon sembari berteriak “hidup-hidup…….”. bersamaan dengan itu, pada malam harinya tak sengaja saya dan kawan-kawan mahasiswa bertemu dengan tim sukses salah satu calon gubernur, kebetulan juga saat itu saya dan kawan-kawan lagi duduk berdiskusi di udayana. Sedikit basa-basi sambil perkenalan, kami pun berdiskusi dengan tim sukses dari salah satu calon gubernur tersebut. Dengan semangat yang menggebu-gebu dia dengan halus mengajak kita untuk memilih salah satu calon yang dimaksud. Dikemukan bahwa salah satu calon yang dimaksud sangatlah cocok untuk memajukan NTB. mulai dari pendidikan, ekonomi, budaya, sampai kesejahteraan rakyat semuanya dikupas seolah-olah calon yang dimaksud sempurna dalam memikirkan rayat NTB. Memang kami sengaja memancing pembicaraannya berharap malam itu si tim sukses meneraktir kami. He..hee..

Mikirnya saya, itu hal yang wajar bagi seorang tim sukses mendukung calon yang menjanjikan kesejahtraan bagi dirinya. Bagai mana tidak, misalnya kalo tim sukses dijanjikan sepada motor ato rumah tentu dimana-mana dia akan berkoar-koar kalau si calon yang dimaksud paling bagus dan cocok untuk dipilih. Bukan begitu...?

Selain itu pula mengingat perjalanan politik yang dilalui oleh semua calon gubernur dan wakil gubernur tentu sudah banyak menguras tenaga dan materi. Itung saja misalnya, mulai pertama sosialisasi percalonan samapai sekarang. beberapa miliar yang dikeluarkan..?. trus besok kalo sudah jadi gubernur bagaimana dong...?.

Detail: REPLEKSI

Minggu, 29 Juni 2008

Resensi

Pergolakan Keras Menemukan Identitas

diresensi Oleh Mahsus Khair

Di tengah gejolak perang suku, seorang wanita terlihat lemas dan lesu melewati masa genting menunggu bayi yang keluar dari dalam rahimnya. Matanya dipejamkan sambil mengenjan sekeras tenaga. Sang suami tercinta duduk disampingnya memberikan semangat, ia terlihat bimbang, dari sorot matanya menggambarkan penantian yang sudah lama-lama ditunggu yakni mengharapkan sorang bayi keluar dari rahim istrinya. Bayi laki-laki,ya bayi laki-laki.

Kondisi dan situasi peperangan suku tentu butuh generasi-generasi yang memiliki otot kekar, bersorot mata tajam, berjiwa pemberani dan cerdas. Inilah alasan yang tepat kenapa kemudian sang komandan suami dari Daria menginginkan bayi laki-laki. Namun pada kenyataannya apa yang diharapkan Komandan berbeda. Sang istri, Daria melahirakan bayi perempuan. Sang komandan tidak dapat berkata apa-apa lagi, matanya tertuju pada kelamin bayi tersebut “perempuan...!” katanya kecewa. Ia merasa dirinya gagal menjadi seorang laki-laki sejati. Apa yang diharapkan dirinya sebagai seorang ayah yang mendambakan bayi laki laki yang kelak dapat menjadi penggantinya pupus sudah.

Samira, begitulah nama anak dari pasangan Komandan dan Daria. Ayah Samira merasa malu dan gagal. Untuk itu ia memutuskan mendidik Samira sebagai lelaki. Dan tumbuhlah Samira sebagai Samir.

Sejak kecil Samira sudah ditekankan untuk memiliki jiwa pemberani oleh ayahnya. Kebanyakan anak seusia Samira tidak menunjukkan adanya sosok pemberani dalam dirinya walaupun mereka bocah laki-laki. Mulai umur lima tahun Samira sudah di ajari memanah, memainkan pedang, dan berburu layaknya kebanyakan anak laki-laki. Ini kemudian membentuk krakter pribadinya berhati keras.

Pembentukan karaketer dirinya kian kompleks ketika ayahnya meninggal dunia dalam peperangan. Ia merasa dirinya sebagi pengganti ayahnya yang senantiasa melindungi ibunya dan sekaligus sebagai pengganti ayahnya sebagai komandan nanti. Pada suatu ketika, Samira pergi, keluar jauh meninggalkan tempat tinggalnya. Ibunya sendirian dalam tenda. Ketika itu datang sosok laki-laki masuk ke dalam tenda dan mencoba memperkosa ibunya. Sukurlah Samira pulang tepat waktu. Ia membunuh laki-laki yang mencoba memperkosa ibunya tersebut dan tersebarlah isu tentang keberanian samira sebagai sosok laki-laki berumur belia.

Layaknya manusia normal, samira tumbuh menjadi dewasa dengan sandangan gelar sebagai sosok laki-laki pemberani. Pergaulannya kian hari semakin luas hingga akhirnya mengenal Bashir sebagai sahabat karib. Pertemanan Samira dengan Bashir dimulai sejak bersekolah, dia begitu akrab sekali, terilhat setiap kali pulang selalu bersamaan menaiki kuda melewati bukit-bukit terjal

Kesalahan identitas menjadikan hidup Samira kian kompleks. Kerumitan semakin bertambah saat Samira menginjak usia dewasa. Dan ketika Samira merasakan gelora asmara. Ia dihadapkan pada dua pilihan memilukan. Ia ingin hidup sebagai isteri Bashir, namun disisi lain pula ia harus mempertahankan identitas kelakiannya yang sudah lama dikenal. Dan ia juga tidak bisa menghindari kemauan ayah Bashir untuk menikahkannya dengan adik Bashir yakni Gol sar. Sementara Gol sar adalah seorang gadis..

Cerita yang luar biasa, tentang pergulatan nasib gadis Afganistan yang mengikuti kata hatinya dan mencari eksistensi di tengah dominasi dunia maskulin. Kisah cinta yang diwarnai kegetiran hidup dan keberanian seorang perempuan yang berjuang menemukan jalan hidupnya sendiri. Novel yang dikarang Siba Shakib dari iran ini betul-betul membawa kita pada kondisi realitas di belahan dunia. Apa yang dirasakan tokoh samira dalam novel ini mungkin banyak pula terjadi pada anak manusia yang lain. Seorang baci misalnya berkelamin laki-laki namun prilakunya seperti perempuan adalah contoh nyata yang kita temukan pada kondisi kehidupan kita.

Selain mengangkat tentang pencarian diri, secara eksplesit juga ide-ide dalam novel ini mengajak kita untuk bisa memahami tentang jender. Bagaimanapun dalam peperangan yang berkecamuk, perempuan tetap besar pengaruhnya. Bukanlah suatu keniscayaan hadirnya perempuan di tengah-tengah kondisi genting tidak memiliki arti. Novel ini secara jujur mengangkat kalau perempuan memiliki peran begitu besar dalam segala sisi kehidupan. Laki-laki dan perempuan sejatinya adalah mahluk Tuhan yang diciptakan memiliki kekurangan dan kelebihan. Laki-laki bisa memimpin begitu juga perempuan memiliki hak yang sama dalam memimpin. Atas dasar ini kemudian terdengar di berbagai belahan dunia perempuan muncul sebagai pemimpin dari suatu kaum maupun negara. Contohnya, ratu balqis pada zamanya memimpin kaumnya dengan damai.[]

Detail: Resensi
◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Rumah Inspirasi is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger